Hukum Membaca Shalawat Nariyah

PERTANYAAN:
Assalamualaikum,
1. http://www.salamdakwah.com/forum/9735-bahaya-
shalawat-nariyah. Tgk, berdasarkan artikel di link tersebut shalawat nariyah tidak boleh dibaca. Apakah benar?
2. Jadi bagaimana sebenarnya isi dari shalawat nariyah tersebut? Syukran.

JAWABAN:
Dijawab oleh Tgk Salamuddin AY
Wa’alaikumussalam,

1. Shalawat Nariyah boleh dibaca. Tidak apa-apa, itu cuma mereka yang ingin mengacaukan kedamaian NKRI saja yang melarang dan juga mereka-mereka yang tidak cinta Rasul saja. Itu link milik Wahabi, jangan dibaca lagi.

2. Kalau dengan pemikiran yang dangkal seperti mereka sehingga menuduh syirik karena Shalawat Nariyyah, maka sesungguhnya mereka dan kita semua selalu dalam keadaan syirik. Mengapa begitu? Karena dalam beberapa keadaan kita juga sering mengatakan;
“Berkat adanya dokter saya bisa selamat dari kanker”
“Karena makanan ini, aku kenyang”
“Karena orang tua, kita bisa menjadi seorang anak yang hebat”
“Karena guru, kita bisa jadi orang sukses”, dan lain-lain padahal tidak demikian.
Dibawah ini saya cantumkan sepenggal tulisan untuk menolak tuduhan kesyirikan Shalawat Nariyyah. Selamat membaca dan semoga kita semua diselamatkan dari orang-orang yang ingin memecah belah umat Islam, Aaminn.
…………
Popularitas Shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.
Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan Shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah SAW alias bid’ah. Sebagian yang lain menghakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah SWT.

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang Shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?
Kita simak dulu redaksi Shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

الَلهُّمَّ صَلِّ صَلاًَةً كََامِلةًَ وَسَلمِّْ سَلاََمًا تاَمًّا عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ الذَِّيْ تَنَْحَُّلُّ ِبِهِ الْعُقَدُ وَتَنَْفَرِجُ ِبِهِ الْكُُربَُ وَتُقَُْضَ ِبِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَُالُ ِبِهِ الرَّغَائِب وَحُسْنُ
الخَْوَاتمِِ وَيسُْتسَْقَى الغَْماَمُ بِوَجْهِهِ الكَْرِيمِْ وَعَلَى آلهِِ وَصَحِْبِهِ فِ كُُُلِّ لمَْحَةٍوَنَ َفََسٍ بِعَدَدِ كُُلِّ مَعْلوُْمٍ لكََ

Perhatian para penuduh Shalawat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan
di bawah ini:

تَنَْحَُّلُّ ِبِهِ الْعُقَدُ وَتَنَْفَرِجُ ِبِهِ الْكُُربَُ وَتُقَُْضَ ِبِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَُالُ ِبِهِ الرَّغَائِبُKalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:
Artinya: “Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi تنَْحَُّلُّ بِهِ العُْقَدُ
Muhammad.”
Artinya: “Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya وَتنََْفَرِجُ بِهِ الكُْرَبُ
Nabi Muhammad.”

Artinya: “Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad.”الحَْوَائجُِ بِهِ وَتقُْضَ

Artinya: “Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya وَتنَُالُ بِهِ الرَّغَائبُِ
Nabi Muhammad.”

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah. Seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.

Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar
Shalawat Nariyah atau disebut juga Shalawat Tâziyah atau Shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi alMaghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika Shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam.
Kedua, pengarang Shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan.

Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi keilmuan dan karya yang tak biasa.

Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari Shalawat Nariyah.
Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) الذي yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata محمّد.
Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.تنَْحَُّلُّ بِهِ العُْقَدُ وَتنََْفَرِجُ بِهِ الكُْربَُ وَتقُْضَ بِهِ الحَْوَائجُِ وَتنَُالُ بِهِ الرَّغَائبُِ. تنَْحَُّلُّ بِهِ العُْقَدُ

Pertama,
Dalam kacamata ilmu sharaf, kata تنَْحَُّلُّ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انحََّْلَّ. Bentuk ini mengikuti wazan انْ َفَْعََلَ yang memiliki fungsi/faedah لمطُاَوَعَةِ فعَََلَ (dampak dari فعََلَ). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, Al-Amtsilah At-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh: كََسَْتُ الزجَُّاجَ فاَنكَْسََ
Artinya: “Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.”
Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (انكَْسَ) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.
Contoh lain:

حَّلّ اللهُ العُقَدَ فاَنحََّْلَّ
Artinya: “Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.”
Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allah-lah yang melepaskannya.
Di sini kita mencermati bahwa wazan انْ َفَْعََلَ mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau تنَْحَُّلُّ بِهِ العُْقَدُ dimaknai bahwa secara mutlak
Nabi Muhammad SAW melepas ikatan-ikatan itu tentu merupakan kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihidi sini menunjukkan pengertian perantara
(wasilah). Pelaku tersembunyinya tetaplah Allah— sebagaimana faedah لمطُاَوَعَةِ فعَََلَ.
Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:ربَِّ اشَْحْ لِي صَدْرِي وَيسَِّْ لِي أمَْرِي وَاحْلُ ْلُْ عُقْدًَةً مِنْ لسَِانِ يَ ْفَْقَهُوا قوَْلِي
Artinya: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”
تنََْفَرِجُ بِهِ الكُْرَبُ Kedua,
Senada dengan penjelasan di atas, تنََْفَرِجُ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْ َفَْرَجَ, yang juga mengikuti wazan انْ َفَْعََلَ. Faedahnya pun sama لمطُاَوَعَةِ فعَََلَ (dampak dari فعَََلَ).

Ketika dikatakan تنََْفَرِجُ بِهِ الكُْربَُ maka dapat diandaikan bahwa فرََجَ اللهُ الكُربََ فاَنْ َفَْرَجَ. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, تقُْضَ بِهِ الحَْوَائجُِ
Kata تقُْضَ adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan.
Kata الحَْوَائجُِ menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.
Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.
يقَْضِ اللهُ الحَْوَائجَِ
Artinya: “Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”
Keempat, ت نَُالُ بِهِ الرَّغَائبُِPenjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus تقُْضَ بِهِ الحَْوَائجُِ.
Singkatnya, Nabi Muhammad SAW bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.
Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimatkalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginankeinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah SWT. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang Shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi Shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.
Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan.

Leave a Reply