Hukum Orang Islam Memasuki Gereja Dan Orang Kafir Masuk Mesjid

PERTANYAAN
Assalamu’alaikum tgk
Bagaimana hukum orang islam memasuki gereja dan orang kafir masuk ke dalam mesjid ?

JAWABAN
Dijawab Oleh Tgk Salamuddin AY
Waalaikumsalam

Untuk orang kafir harus punya izin dari orang islam, dan dengan catatan terjaga dr melecehkan masjid dan mengotori mesjid, kecuali masjidil haram, mutlak haram

Untuk gereja
Pada dasarnya memasuki gereja, hukumnya boleh saja selama tidak ada faktor-faktor yang mengharamkannya.
Faktor-faktor yang mengharamkannya misalnya :

a. Masuk tanpa izin pemiliknya, Dalam Hasyiah ‘Amirah ‘ala Syarah al-Mahalli disebutkan :
لَا يَجُوزُ لَنَا دُخُولُهَا إلَّا بِإِذْنِهِمْ وَإِنْ كَانَ فِيهَا تَصْوِيرٌ حَرُمَ مُطْلَقًا، وَكَذَا كُلُّ بَيْتٍ فِيهِ صُورَةٌ
Artinya : Tidak bolek masuk dalam gereja kecuali dengan izin mereka (pemilik gereja) dan seandainya dalam gereja tersebut ada patung-patung, maka haram secara mutlaq, demikian juga setiap rumah yang ada patung.[1]

Dalam Hasyiah al-Jamal disebutkan :
لَيْسَ لِلْمُسْلِمِ دُخُولُ كَنِيسَةٍ بِغَيْرِ إذْنِ أَهْلِهَا
Artinya : Tidak boleh bagi seorang muslim memasuki gereja dengan tanpa izin ahlinya.[2]

b. Dalam gereja tersebut terdapat patung-patung sebagaimana penjelasan dalam kitab Hasyiah ‘Amirah ‘ala Syarah al-Mahalli dan Hasyiah al-Jamal di atas. Nabi SAW bersabda :
أتاني جبريل فقال: أتيتك البارحة فلم يمنعني أن أكون دخلت إلا أنه كان على الباب تماثيل، وكان في البيت قرام ستر فيه تماثيل، وكان في البيت كلب، فمر برأس التمثال الذي على باب البيت يقطع فيصير كهيئة الشجرة، ومر بالستر فليقطع فليجعل منه وسادتان منبوذتان توطآن، ومر بالكلب فليخرج، ففعل رسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya : Jibril pernah mendatangiku sambil berkata : “Aku mendatangimu semalam. Tidak ada yang menghalangiku masuk kecuali ada patung di pintu rumah dan di dalam rumah terdapat kain tirai yang ada patung dan juga ada anjing di dalamnya, maka suruhlah untuk menghilangkan kepala patung yang ada di rumah itu sehingga menjadi seperti bentuk pohon dan suruhlah potong tirai itu dengan dijadikan menjadi dua bantal yang dijadikan sandaran serta suruh keluarkan anjing tersebut. Kemudian Rasulullah SAW melakukan semuanya itu

Hadits ini telah ditashihkan oleh Turmidzi dan Ibnu Hibban. [3]

c. Pakaian dan tingkah laku kita menyerupai kaum nasrani, ini sesuai dengan hadits Nabi SAW :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu. (H.R. Abu Daud)[4]

Al-Sakhawy mengatakan, hadits ini diriwayat oleh Ahmad, Abu Daud dan al-Thabrany dalam al-Kabir dari hadits Muniib al-Jarsyi dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan sanad dha’if, namun hadits ini telah disokong oleh hadits Huzaifah dan Abu Hurairah di sisi al-Bazar, di sisi Abu Na’im dalam Tarikh Ashbahan dari Anas dan di sisi al-Qadha’i dari hadits Thawus secara mursal.[5]

Dengan demikian, hadits ini meskipun sanadnya dhaif, kualitasnya naik menjadi hasan karena ada sokongan dari jalur-jalur lain sebagaimana terlihat dari uraian di atas. Kesimpulan ini sesuai dengan pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani berikut:
”Hadits ini dikeluarkan Abu Daud dengan sanad hasan.” [6]

d. Memasuki gereja pada waktu hari raya atau ketika acara ritual mereka, karena hal ini menunjukkan kegembiraan atau persetujuan kita terhadap amalan mereka serta menyerupai dengan perilaku mereka. Allah berfirman
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya : Tolong menolonglah kepada kebajikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong kepada kemaksiatan dan permusuhan (Q.S. al-Maidah : 2)

Umar r.a mengatakan:

لاَ تَعَلَّمُوا رَطَانَةَ الأَعَاجِمِ وَلاَ تَدْخُلُوا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِى كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيدِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ.
Artinya : Janganlah kalian menemui orang-orang musyrik di gereja-gereja (tempat ibadah) mereka pada hari raya mereka, karena kemurkaan (Allah) turun kepada mereka.(H.R. Baihaqi)[7]

Jadi pertanyaan yang pertama di atas dapat dijawab bahwa hukumnya adalah haram kalau kaum gereja tersebut sedang melakukan ritual, meskipun berada dalam ruangan lain yang bukan ruangan acara ritual mereka, karena hal tersebut menunjukkan kegembiraan atau persetujuan kita terhadap amalan mereka serta menyerupai dengan perilaku mereka. Apalagi kalau dalam ruangan tersebut terdapat patung-patung.
Kami belum menemukan ada ulama yang mu’tabar yang memboleh menghadiri acara peribadatan non-muslim tapi tidak mengukuti acara tsb. Karena hal itu bertentangan dengan dalil-dalil yang telah kami sebut di atas.

Referensi:
[1] ‘Amirah, Hasyiah Qalyubi wa Amirah ‘ala Syarh al-Mahalli, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. IV, Hal. 235
[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, Dar Ihya al-Turatsi al-Araby, Juz. III, Hal. 572
[3] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barri, Maktabah Syamilah, Juz. 10, Hal. 392
[4] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 441, Nomor hadits : 4031
[5] Al-Sakhawy, al-Maqashid al-Hasanah, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 639
[6] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fath al-Barry, Maktabah Syamilah, Juz. X, Hal. 271
[7] Baihaqi, Sunan al-Kubra, Maktabah Syamilah, Juz. IX, Hal. 234, No. hadits : 18640