Kemudian, Tak akan Ada Lagi Kerinduan Tanpa Pertemuan

kerinduan
“Dan apabila aku bertanya banyak kepadamu tentang kamu.

Dan aku bercerita panjang denganmu tentang aku.

Maka sesungguhnya, semua itu karna cinta.”

Assalamu’alaikum wrb,,

Apa kabarnya imanmu hari ini?

Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur? kerana dapat kembali menatap fananya hidup ini.

Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanmu, atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?

Wahai calon istriku!
tahukah engkau bahwa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya?

Di sini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak, meskipun kadang-kala asa keluh dan putus asa menerjah. Namun kini kurasakan, diri ini lebih baik. Aku masih bertahan.

Kadang aku bertanya-tanya kenapa Allah selalu menguji hatiku, bahagian yang terapuh dalam diriku. Namun kini kutahu jawabannya.

Allah tau di mana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingatNya, kembali mencintaiNya.

Aku telah lama berada di tempat lain yang menyenangkan. Ada dedaunan hijau serta air yang mengalir dari pegununggan. Namun keindahan yang terpandang, belum cukup melebihi apa yang kini ku dapati.

Ujian demi ujian insya Allah membuatku menjadi lebih tabah dan kuat, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga memiliki aku di hatimu.

Meskipun itu bukan karna sepenuhnya atas kelebihan yang ku miliki. Aku sadar, bahwa masih banyak memiliki kekurangan. Namun ku tau, kamu tidak melihat kekuranganku yang banyak atau kelebihan yang sedikit pada diriku. Sebagaimana karna sebuah cinta tentang hidup, seperti itulah aku kini menilai. Dan mungkin, kamu juga begitu.

Calon istriku….!

Entah dimana dirimu sekarang, tapi aku yakin Allah juga mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahidah yang kuat dan teguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.

Apa yang kuharapkan darimu adalah kesolehan. Semoga sama halnya dengan dirimu terhadapku. Kerana apabila ketampanan yang kau harapkan dariku, maka hanya kesia-siaan dan kekecewaan yang akan kau dapati.

Aku masih haus akan ilmu, namun berbekal ilmu yang ada saat ini aku berharap dapat menjadi suami yang mendapat keredhaan Allah dan dirimu, istriku.

Wahai calon istriku…!

Aku ini cemburu, tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu..

Aku yakin kaulah yang kubutuhkan meski mungkin bukan yang kuharapkan.

Calon istriku yang dirahmati Allah…!

Ketika kelak telah lahir generasi penerus da’wah islam dari pernikahan kita, bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah ta’ala.

Bunga akan indah pada waktunya, yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya. bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.

Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik tapi setidaknya bisa menjadi yang terbaik di sisimu kelak.

Calon istriku..!

Inilah sekilas harapan, yang kuukirkan dalam rangkaian kata. seperti kata orang “tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata”. itulah yang kini kuhadapi.

Kelak saat kita tengah bersama maka di situlah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.

Seperti pohon hijau tak lama kan bergugur. Laut biru pun hanya sesaat bergelombang. Bahkan beberapa awan tak selalu beterbangan. Lantas, kemudian tak akan ada lagi kerinduan tanpa pertemuan, dan kita akan bertemu. Lalu, kemudiannya, takkan ada lagi pertemuan kecuali sebuah perpisahan, lantas kita saling merindu.

Leave a Reply