Kualitas Pemimpin Tergantung Kualitas Rakyatnya

Pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Keadaan masyarakat akan berpengaruh besar dalam “melahirkan” pemimpinnya. Sebagaimana dalam satu hadits riwayat al-Dailami dijelaskan:

 

(كَمَا تَكُونُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ (رواه الديلمي

“Sebagaimana keadaan kalian, demikian terangkat pemimpin kalian”

Disamping kondisi masyarakat secara umum, kolega dan pendukungnya juga mempengaruhi keadaan serta kualitas seorang pemimpin, sebagaimana disebutkan dalam kitab Syadzaraat al-Dzahaab:

وروي أن رجلا قال لعليّ: ما بال خلافة أبي بكر وعمر كانت صافية، وخلافتك أنت وعثمان متكدّرة؟

فقال: إن أبا بكر وعمر، كنت أنا وعثمان من أعوانهما، وكنت أنت وأمثالك من أعواني وأعوان عثمان

(1/226)  شذرات الذهب في أخبار من ذهب

“Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu pernah ditanya seseorang, “Mengapa disaat Abu Bakar dan Umar menjabat khalifah, kondisinya bersih (tertib dan tenang), namun saat Engkau dan Utsman yang menjadi khalifah kondisinya kacau (tidak teratur)?

Sayyidina Ali menjawab: “karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun disaat aku dan Utsman menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu.”

 

Kepribadian Seseorang Tergantung Temannya

Tidak bisa dipungkiri, bahwa sahabat dekat dan pendukung menjadi salah satu indikator awal baiknya pemimpin atau tidak. Ini mengingatkan kita pada satu sya’ir yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim yang kita pelajari dan ajarkan di Dayah yang berbunyi;

عن المرء لاتسأل وأبصر قرينه # فإنّ القرين بالمقارن يقتدى
فإن كان ذا شرّ فجانبه سرعة # وإن كان ذاخير فقارنه تهتدي

“Jika kamu hendak mengenal karakter seseorang, jangan tanyakan padanya “hey kamu orangnya gimana, baik tidak, jujur tidak..?,

Tapi lihat sahabatnya, karena sesungguhnya sahabat itu pasti saling mempengaruhi. Jika engkau melihat sahabatnya berkarakter buruk, segera menjauhlah.

Namun jika kau melihat sahabatnya baik, bersahabatlah dengan nya, niscaya engkau akan mendapat perunjuk.”

 

Intropeksi Diri Sendiri

Makanya, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, jangan salahkan mereka saja sementara kita lupa untuk muhasabah atau intropeksi diri sendiri untuk menilai diri kita masing – masing. Sebab pemimpin itu cerminan dan gambaran masyarakatnya.

Akhirnya kita berdo’a kepada Allah supaya diberikan pemimpin yang baik untuk kita:

‎ اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ وَلَا يَرْحَمُناَ

Artinya: “Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau kuasakan (jadikan pemimpin) atas kami—karena dosa-dosa kami—orang yang tidak takut kepadaMu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami.”

Semoga menjadi renungan untuk kita semua.

Leave a Comment